Spiga

Long March Padang Panjang - Bukit Tinggi

Sayang jika sebuah perjalanan tidak sempat ditorehkan dalam sebuah tulisan untuk dinikmati dikemudian hari. Walaupun Otak kita jutaan kali lebih canggih dari prosesor intel Core i7 seri terbaru, terkadang masalah dalam hidup ini membuat kita lupa akan perjalanan hidup yg telah kita lalui. Melalui blog ini saya berbagi cerita tentang pengalaman yang sempat saya lalui, juga sempat saya tuliskan. Soalnya banyak juga perjalanan yang gak sempat saya tuliskan, jadi gak sempat untuk dibagikan...

Ilustrasi sebuah perjalanan

Sebagai manusia normal, terkadang ada terselip rasa jenuh ketika kita mengerjakan sesuatu yang biasa saja dengan berulang kali dalam waktu yang berdekatan. Rasanya ingin teriaaaaakk yang kencang jika sedang terjadi saturasi dalam otak ini. Kalo dulu jaman masih muda, tinggal pergi ke Studio Band bareng anak2 GRADE-C, maka tersalurkan semua hasrat keluh kesah dan derita. Tertawa, teriak, bernyanyi, lompat-lompat hingga baju basah karena peluh hingga puas. Rasa jenuh dan stress pun hilang berganti gembira. Ah... masa muda yang indah...

Sekarang gak mungkin lagi dong teriak-teriak. Bisa-bisa ditimpukin rendang sama tetangga. Masih mending sih kalo ditimpukin pake rendang (bisa dipungutin rendangnya buat makan), gimana kalo gara2 teriak-teriak gak jelas, saya diarak orang sekampung terus dilempar ke lembah anai... Bisa-bisa saya gagal jadi PNS BMKG, malah jadi tukang Paragede Angek di Simpang Paragede Lembah anai. hehehe...

Nah daripada kejadian diatas bener-bener terjadi, mending saya salurkan kejenuhan ini dengan melakukan sesuatu yang melelahkan namun mengesankan, spektakuler, Dahsyat, dan Ruaaaarbiasa!![lebaaay]..
Paragede Angek (Perkedel Anget)

Dan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih untuk melakukan longmarch Padang Panjang - Bukittinggi di hari Kamis tanggal 29/12/2011. Sebuah petualangan akhir tahun yang benar-benar mengesankan :D. Kenapa saya milih longmarch ke Bukittinggi? Alasan utamanya adalah karena ada Ka. BMKG datang ke kantor tanggal 27 sore (nyambung ga ya alasannya?? :D), terus karena saya lagi ngirit duit soalnya beberapa bulan terakhir (dan kedepan) ini ada beberapa hal yang harus saya biayai (alhamdulilah hasil kerja saya bermanfaat). Andaikan saya melakukan perjalanan yg menguras duit kayak jalan2 ke berbagai pulau atau gunung, mungkin ntar saya bakal teriak.. WAH.. RUGIIIII DONK SAYAAAA! hehehehehe... :D.

Rasanya sudah lama sekali gak melakukan petualangan-petualangan gila lagi. Berpetualang sekaligus berolahraga namun cuma mengeluarkan "pitih" sangat kecil. Modalnya cuma air putih sama roti doank. Waktu SMP dulu hampir 2 minggu sekali longmarch dari rumah ke Palutungan (pos pendakian di kaki gunung ciremai). dan sekarang sudah kerja, pengen juga nostalgia dengan longmarch dari Padang Panjang ke Bukittinggi dengan modal yang sama: air putih + roti (rotinya gak enak jadi gak dimakan :D). dan inilah kronologi perjalanan lengkap dengan (sedikit) fotonya...



Catatan Longmarch Padang Panjang - Bukittinggi
Kamis 29/12/2011


Pukul 10.10 Am - "Take off" from rumah dinas tercinta

Hoaaah.. padahal udah diniatin dari kemaren. Tapi tetep aja pagi ini agak males-malesan buat mandi pagi. Mungkin gara2 semalem bergadang nonton pelem "Cowboys.&.Aliens" ampe larut malem. Tapi target harus dipenuhi, dengan berjuang melawan kemalasan yang melanda, akhirnya saya bisa take off dari rumah dinas tercinta pukul 10.10 Am. Bener-bener waktu take off yang kurang tepat, soalnya jam-jam segini sengatan matahari udah kerasa panas. Apalagi hari kamis ini cuacanya seharian dari pagi ampe malem cerah banget... walhasil.. nyureng nepi ka hideung tah beungeut ti padang panjang nepi ka bukittinggi... Liat aja Fotonya dibawah ini, muka kusut akibat jenuh+kepanasan. Padahal baru keluar dari rumah..

Foto rumah dibelakang adalah rumah dinas BMKG dan gunung yang terfoto adalah gunung tandikat.




Pukul 10.45 Am - Nyampe pasar Padang Panjang

Longmarch kali ini saya gak menargetkan waktu sekian jam harus nyampe tujuan. Tapi lebih kepada menikmati perjalanan, jadi ya jalannya santai aja. terbukti setelah jalan kaki 35 menit saya baru sampe pasar padang panjang. disini saya berhenti dulu untuk beli air mineral dan teh botol sebagai bekal perjalanan. Di deket pasar ini juga saya berniat ngecek Harta kekayaan saya di ATM Mandiri, namun sayang sekali ATM nya lagi gak bisa dipake. ya terpaksa ngecek pake sms banking dan pulsa saya pun tersedot :D.


Pukul 11.05 Am - Istirahat sebentar

Saya baru berjalan selama 1 jam. Namun karena Hari semakin siang dan matahri semakin panas, membuat tenggorokan ini cepat kering dan haus. Pukul 11.05 Am saya berhenti sebentar di dekat penampungan air PDAM Padang Panjang untuk minum air. Minumnya gak banyak-banyak, tapi secukupnya saja. Karena kalo kebanyakan juga malah membuat perjalanan jadi tidak nyaman. Setelah minum beberapa teguk, saya langsung melanjutkan perjalanan. Waktu itu istirahatnya mungkin kurang dari 5 menit saja. Tak lama kemudian saya sampai di perbatasan Padang Panjang dan tanah datar. Sebelumnya saya gak tahu kalau ternyata perbatasan Padang Panjang itu ditempat ini. Ternyata Padang Panjang itu sangatlah kecil sekali daerahnya :D.

 

Foto Perbatasan Padang Panjang - Tanah Datar


Selamat datang di Padang Panjang



Pukul 11.22 Am - Kereta Api Zaman Belanda, riwayatmu kini..

Sepanjang perjalanan saya dari Padang Panjang ke Bukittinggi tentunya secara tak langsung saya menyusuri bekas-bekas rel kereta api yang dulu pernah berjaya di Sumatra Barat. Kata Uda Syamsir, dahulu ibu nya sering pergi ke padang dari bukittinggi menggunakan jasa kereta api tersebut untuk berjualan. Namun kini semua tinggal kenangan... dan ini salah satu FOsil nya :D saya gak terlalu ngefans sama kereta api, jadi cuma ambil 1 foto aja

kolam di pinggir jalan dengan pembatas kolamnya adalah rel kereta api


Hasil kerajinan tangan penduduk setempat berupa Pesawat-Pesawat komersial, Kerajinan ini dijual loh..!



Pukul 11.30 Am - Istirahat lagi sebentar buat minum air

Setelah melewati perbatasan Padang Panjang - Tanah Datar, medan yang saya lalui semakin berat. Selain karena hari semakin menyengat, juga karena jalan yang saya lalui semakin menanjak. Ternyata Kabupaten Tanah Datar itu tidak memiliki kontur tanah "sedatar" namanya! melainkan menanjak terus. haha... Pukul 11.30 Am saya istirahat sebentar dibawah pohon untuk minum seteguk air. Waktu itu ada yang baralek diseberang jalan. Andaikan saya pake pakaian yang rapi, mungkin saya masuk dan minta minuman dingin plus makanannya (dibungkuih cie da :D)



Pukul 12.00 Am - Istirahat di depan kantor kepala jorong koto tuo nagari panyalaian

Cerahnya cuaca hari ini memang benar-benar membuat saya cepat lelah dan kepanasan. Baru 30 menit saya berjalan menanjak, akhirnya harus istirahat juga tepat di depan kantor kepala jorong koto tuo nagari panyalaian. Suhu waktu itu tercatat 33,1 derajat celcius. Kalo di bandingin sama suhu Jakarta mungkin suhu ini memang biasa-biasa saja. Tapi untuk ukuran disini cukup panas juga :) Di tempat ini saya mulai meminum teh botol dingin yang saya beli di pasar padang panjang. Wah segeeer beneeer.. ampe setengah botol langsung abis. Sebenernya kalo gak inget bahwa perjalanan saya masih jauh, mungkin waktu itu air teh nya langsung habis sebotol.




Pukul 12.14 Am - Pabrik Tepung dengan energi ramah lingkungan

Hidup secara tradisional terkadang lebih baik bagi diri kita dan alam sekitar dibandingkan dengan kehidupan secara modern. Salah satunya adalah pabrik tepung pada foto dibawah ini. Kalo gak salah ini namanya daerah Gonjong, masih di nagari panyalaian. Pabrik tepung ini memanfaatkan energi air untuk menggerakan roda/kincir air hingga berputar, roda tersebut menggerakan alat untuk menumbuk beras menjadi tepung yang ada di dalam pabrik. Sistem seperti ini tentu tidak membutuhkan bahan bakar bukan? hanya membutuhkan aliran air yang memiliki energi potensial yang bisa didapatkan dari sungai setempat. Dan tentunya tidak menyebabkan limbah hasil pembakaran bahan bakar, sehingga aman untuk alam sekitar. Sungguh brilian.. Terkadang teknologi dari kearifan lokal jauh lebih hemat dan aman dari teknologi canggih yang ada sekarang ini :)

roda/kincir air beserta pabrik tepung yang digerakan oleh air

air dari sungai kecil yang ditampung dan dibelokan ke arah roda/kincir air. Dam kecil ini berada di tempat yang lebih tinggi daripada letak kincir airnya. Sehingga air yang mengalir memiliki energi tinggi untuk menggerakan kincir air.



Pukul 12.25 Am - Sampai di Aie Badarun

Rumah makan Aie Badarun terletak di daerah nagari Aie Angek . Aie dalam bahasa minang berarti air (klo dalam bahasa acehnya ie, bahasa sunda nya water :D), Angek mungkin berasal dari kata anget atau disini lebih sering diartikan panas, dan kata Badarun bisa diartikan suara "Berderun", karena solokan kecil di depan rumah makan tersebut kalo debit airnya lagi tinggi mengeluarkan suara khas air deras yang berderun-derun (sotoy dikit lah :D). Rumah makan ini termasuk rumah makan favorit bagi orang-orang kalangan menengah ke atas karena termasuk rumah makan sekelas Pak Datuk di Padang Panjang atau Lamun Ombak di Padang. Masakannya ya jelas bukan masakan Sunda, melainkan masakan Padang yang pedas bersantan berminyak dan berdaging. Tapi saya suka makan di tempat ini (gak sering sih, kalo beruntung aja ada yg ngebayarin) karena disini disediakan beberapa menu yang mengandung sayuran cukup banyak jika dibandingkan rumah makan lainnya. Kalo gak salah saya pernah nemu capcay juga disini.

Penampakan Rumah Makan Aie Badarun dengan background Gunung Marapi

Kalo lagi jalan ke Bukittinggi lewat rumah makan aie badarun ini suka inget bang kribo, driver tatoan yang sukanya teriak-teriak gak jelas. Pernah suatu kali waktu makan disini bareng rekanan dari pusat, gara-gara pesanan makanannya gak dateng-dateng bang kribo teriak: BANDREEEEEKK!! !@#$%^&*((*&^!@2345*&^@#3456**.... (sorry there is no "minang to indo" translator available)

saya kira di ranah minang juga ada minuman bandrek, jadi dia mesen 1 gelas bandrek. Gataunya dia teriak Pantheek.. yang merupakan salah satu umpatan dalam bahasa minang. Saya gak tau artinya apa, yang pasti waktu itu orang-orang pada ngeliatin dan kami semua cuma bisa ketawa. hehehe... i love that moment...

Penampakan bang kribo waktu nampang di Puncak Lawang (deket danau maninjau)



Pukul 12.27 am - Rumah Puisi - Taufik Ismail (Aie Angek Cottage)

Cuma jalan kaki 1 atau 2 menit dari rumah makan Aie Badarun, saya udah sampe di Aie Angek Cottage. Disini ada 2 tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi yaitu Rumah Puisi Taufik Ismail (buat yang gak tahu Taufik Ismail silakan balik lagi sekolah di SD) dan RUmah Budaya Fadli Zon yang sekaligus Aie Angek Cottage. Sebenernya suana di dalam aie angek cottage dan rumah puisi ini sangatlah nyaman asri indah dan pemandangannya juga keren gak ada 2 nya, tapi karena hari sudah siang saya harus meneruskan perjalanan saya yang masih panjang menuju jam gadang. Di kesempatan kali ini saya hanya memfoto gerbang masuknya saja.

Gerbang masuk Aie Angek Cottage



Gerbang masuk Aie Angek Cottage 
Puisi Taufik Ismail yang dipasang pada tugu di gerbang masuk. Kalo baca puisi karya beliau jadi seakan balik lagi ke zaman SD dahulu. Pas pelajaran bahasa Indonesia sering kali belajar tentang puisi Taufik Ismail :D




Pukul 12.30 am - Pasar Sayuran Segar

Masih di daerah nagari Aie Angek, saya sempat mengabadikan sebuah pasar yang khusus menjual sayuran-sayuran segar hasil perkebunan disekitarnya. Disini gak ada orang jualan yang lain kecuali sayuran. Katanya sih disini kebanyakan yang dijual sayuran-sayuran organik alias tanpa pestisida dan zat-zat kimia pabrikan. Saya belum pernah belanja dipasar ini, jadi gak bisa berkomentar banyak, yang pasti pemandangan sekitarnya keren banget. Cuma sayang, gak sempet saya abadikan. Soalnya banyak yang ngeliatin, takutnya saya yang lagi moto-moto malah dikira teroris yang lagi survei tempat. hehe...

salah satu kios di Pasar Sayuran Segar Aie Angek


Pukul 12.38 am - Penambangan Pasir Liar

Saya kurang tahu nama daerah ini, Mungkin masih termasuk ke nagari Aie Angek. Disini bisa kita jumpai gorong-gorong atau Goa sempit yang tembus ke dalam bukit-bukit kecil. Kata orang disini tempat orang menambang pasir secara liar alias ilegal. Coba lihat fotonya dibawah ini, goa-goa nya sempit banget, cuma bisa masuk badan doank. Emang sih ada 2 lagi Goa yang besarnya 3kali lipat lebih besar dari ini, tapi gak sempet saya foto, karena (lagi-lagi) saya kuatir masyarakat penambang disitu pada curiga dan marah :D.

Ketika lewat daerah penambangan ini saya langsung bersyukur, bahwa Allah telah memberi saya cara untuk mendapatkan rezeki yang lebih aman dan lebih mudah daripada menjadi seorang penambang pasir seperti mereka (Sekali lagi... Terima kasih banyak ya Allah...). Tentu hasil yang didapatkan para penambang ini tidak sesuai dengan beratnya pekerjaan dan besar nya resiko yang harus mereka hadapi setiap mereka mengeruk pasir dari dalam goa-goa kecil tersebut. Struktur batuan dari pasir tentu sangat rentan terhadap goncangan. Apalagi sekarang mereka membuat gorong-gorong atau goa-goa pada bukit dengan kandungan pasir tinggi, tentu akan sangat berbahaya jika suatu saat terjadi gempa besar. Bisa-bisa mereka tertimbun di dalam goa-goa kecil tersebut. Kita semua tahu bahwa Sumatra barat itu termasuk daerah yang sangat rawan gempa bumi. Dan sekali lagi saya bersyukur... terimakasih atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku ya Allah.....

goa kecil tempat menambang pasir

goa kecil tempat menambang pasir


Jembatan rel kereta api disebelah tempat penambangan pasir ilegal


Pukul 12.53 am - istirahat Solat Duhur

Panas kian membara, menyengat kulit muka nan tipis. Panas terasa di muka memang tak seberapa. Namun berdasarkan pengalaman, dapat dipastikan bahwa muka ini bakal berganti kulit beberapa hari lagi. Walau panas nya siang sangat membara, namun ternyata keringat gak begitu banyak. Karena daerah ini termasuk daerah ketinggian dan memang sedang banyak angin berhembus ketika itu :D. Kumandang adzan memandakan waktu telah memasuki duhur, dan saya mulai ngelirik kanan kiri untuk mencari masjid yang dekat dengan jalan utama yang saya lalui. Tak berapa lama saya menemukan sebuah masjid kecil di sebelah kanan jalan. Masjid nya tidak begitu bagus, mungkin bisa dikatakan kurang terawat. Namun yang membuat saya tertarik di mesjid tersebut adalah air di tempat wudu nya. Airnya mengalir sangat deras dan jernih sekali. Air wudu di mesjid ini bukan dari air sumur yang digali, melainkan didapatkan dari menampung air sungai yang mengalir dari gunung Marapi. Sehingga airnya benar-benar jernih dan segar. Rasanya ingin sekali loncat dan renang di kubangan airnya yang sangat segar, Apalagi udara ketika itu lumayan panas dan saya udah hampir 3 jam berjalan kaki dengan istirahat hanya 5 hingga 10 menit saja. Jadi sangat nikmat sekali kalo memang waktu itu beneran renang di air pegunungan yang segar tersebut untuk melepas lelah.



Mesjid di kaki gunung Marapi. Sebelah kanan masjid lama yang masih dipakai, sebelah kiri masjid baru yang masih dalam tahap pembangunan



Tempat wudu yang memiliki air jernih dan segar. Debit airnya juga cukup tinggi, jadi suara airnya saja membuat pikiran ini segar, apalagi kalo emang beneran jadi mandi disitu ya :D


Tempat Wudu




Pukul 13.15 pm - Memulai kembali perjalanan

Setelah selesai menunaikan ibadah solat Duhur, walaupun tidak lapar saya memakan sedikit perbekalan saya. Namun entah kenapa roti yang saya bawa kurang enak ketika dikonsumsi. Rasanya aneh, apalagi setelah masuk ke perut, jadi agak mual, padahal baru dimakan 1 potong. Ujung-ujungnya roti tersebut gak saya makan, tapi saya bawa pulang lalu saya kasih ke burung-burung yang biasa berkumpul di sekitar rumah dinas. Setelah meminum beberapa teguk air dan mencuci muka agar lebih segar lagi, saya kembali melanjutkan perjalanan ke Bukit tinggi.


Pukul 13.33 pm - Pasar Koto Baru

Pukul setengah dua siang, matahari belum juga memiliki itikad baik untuk bersahabat dan berdamai dengan saya. Padahal jalur yang harus saya lalui semakin menanjak dan menonjok. walhasil, tenaga saya semakin terkuras dan cairan tubuh saya menguap dijarah paksa oleh keganasan sang surya. Ternyata penderitaan saya sebagai atlet kerja rodi tak berhenti hingga disini, karena ketika itu saya harus melewati sebuah pasar yang cukup ramai di daerah Koto Baru. Jika sedang hari pakan (hari pasar) yang jatuh pada hari senin, selalu terjadi kemacetan kendaraan yang cukup parah di jalan sekitar pasar ini. Padahal jalur tersebut merupakan jalur Vital yang menghubungkan Padang-Bukittinggi dan kota-kota besar lainnya. Untung ketika itu bukan pas hari pasar,karena perjalanan ini saya lakukan di hari kamis, jadi saya tidak bertemu dengan hirukpikuk macet kendaraan. Lantas apa yang membuat penderitaan saya bertambah kalo bukan macet? Jawabannya adalah karena bau busuk dari pasar yang menusuk hidung saya. Tumpukan sampah organik di depan Pasar koto baru cukup mengganggu penglihatan dan mengganggu indra penciuman saya. terlebih di siang bolong seperti ini, saat dimana sang surya lebih giat "mengudarakan" bau busuk dari sayuran dan buah-buahan yang tengah asik diurai oleh makhluk-makhluk pengurai yang berukuran mikroskopis. Hadeueuh Ondeh Mandeh banget dah pokoknya..



Pasar Koto baru, foto ini diambil asal-asalan bahkan tanpa dibidik, tapi hasilnya artistik juga yah... keren.. :D



Pukul 13.45 pm - Talago Koto Baru

Kalo barusan diatas saya cerita tentang "Kjokken Modinger" nya orang-orang modern yang dibuang sembarangan di pasar, Nah kali ini saya akan menceritakan "The Paradise of Koto Baru" alias surga nya Koto Baru. Cuma jalan kaki sekitar 15 menit dari Pasar Koto Baru, saya sampai di Talago Koto Baru. Talago merupakan bahasa minang, jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Telaga. Talago Koto Baru tidak memiliki ukuran yang begitu besar, tapi cukup indah untuk dipandang karena tanaman disekitarnya yang hijau, airnya yang jernih, serta latar belakangnya merupakan pemandangan gunung Marapi. Menurut cerita sih talago tersebut dulunya meliputi daerah yang cukup luas. Namun karena tumbuh beberapa tanaman air (kebanyakan eceng gondok), menyebabkan talago tersebut menjadi dangkal dan menyusut.

Di talago ini saya jumpai beberapa pemancing ikan yang sedang asyik menunggu joran nya di pinggir talalgo tersebut. Ada juga beberapa orang yang hanya duduk-duduk santai menikmati indahnya pemandangan talago bersama anjing-anjing mereka. Talago ini emang tempat yang enak untuk bersantai, buat nongkrong atau mungkin buat pacaran :D. Jika terasa lapar, di deket talago ini ada beberapa warung yang menyediakan makanan. Yang paling terkenal dan yang paling saya sukai adalah Warung Bika Talago. Buat yang belum pernah nyoba, saya sarankan untuk mencoba bika talago ini. Rasanya menurut saya jauh lebih enak daripada bika ambon. Warungnya bisa di jumpai di sebelah talago koto baru ini. Bika nya disediakan masih anget-anget, luar biasa nikmatnya jika dimakan sambil menikmati indahnya pemandangan talago di sore hari. Di kesempatan ini saya gak sempat mengabadikan warungnya. :D

Talago Koto Baru dengan latar belakang Gunung Marapi

Airnya yang jernih jadi bisa buat ngaca. Sebenernya ini memfoto ikan mujair, tapi karena pantulan sinar matahari, jadi gak keliatan ikannya :D

Disebelah kiri saya ada orang yang sedang memancing ikan

Andai talago ini deket rumah,... tiap hari mancing dah!! hehe

Orang mancing di sisi lain dari telaga yang ditumbuhi tanaman-tanaman air, banyaknya tanaman air membuat telaga ini semakin menyusut

Liat orang mancing jadi pengen ikutan mancing. Tapi sayang gak punya joran nya :D



Pukul 14.30 pm - Sampah di Pinggir Jalan


Sampah yang dibuang sembarangan di pinggir jalan


Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) 
(QS. ArRuum :41-46)


Di sebuah kelokan jalan yang jauh dari konsentrasi pemukiman penduduk, saya menemukan satu daerah dimana sepanjang jalan pada daerah tersebut menjadi tempat pembuangan sampah akhir secara ilegal. Mengenaskan.. disebuah daerah yang merupakan jalan lintas provinsi harus dicemari dengan pemandangan yang tidak enak dilihat mata yaitu SAMPAH!! Mengapa masyarakat disekitar itu dengan seenaknya membuang sampang dipinggir jalan seperti itu? Apakah tidak ada tempat lain yang lebih layak dan aman untuk membuang sampah selain disitu? ataukah memang pemerintah setempah tidak menyediakan fasilitas pembuangan sampah sementara untuk kemudian dikirim ke TPA? ataukah masyarakat tersebut terlalu malas dan tidak peduli dengan masalah sampah sehingga mereka menyepelekannya?

"mereka datang jauh2 ke tempat tersebut hanya untuk membuang sampah, padahal dengan energi yang sama, mereka bisa membuang sampah ke tempat yang lebih layak"

Einstein berkata: "PAKE DONG OTAK LU!!!"

Apakah mereka tidak pernah memikirkan apa dampak dari sampah-sampah yang menumpuk dipinggir jalan tersebut? Ataukah mereka yang membuang sampah disitu bukan Manusia? karena setahu saya manusia itu memilik akal dan fikiran... ataukah mereka manusia jenis baru yang tidak dilengkapi akal dan fikiran oleh Tuhan?
Saya rasa tidak demikian... karena akal dan fikiran secara default telah Allah tanamkan pada diri manusia. Yang membedakan adalah, ada diantara manusia yang mempergunakan akalnya, ada pula yang menganggap otak mereka hanya aksesoris pelengkap tubuh sehingga tidak mereka gunakan karena dianggap hanya sekedar hiasan belaka..

Saya telah melakukan perjalanan sesuai dengan surat Ar-Ruum diatas, dan saya telah melihat kerusakan di darat yang disebabkan oleh ulah manusia. dan kini, saya khawatir bagian "supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka" akan segera terjadi..

Sebagian besar bencana yang terjadi justru akibat dari manusia itu sendiri.
Mari kita menjaga Bumi ini tetap indah dan seimbang...

Bersama menjaga bumi tetap seimbang


Buang sampah pada tempatnya!!!


Mari kita buang sampah pada tempatnya! :)



Pukul 14.50 pm - Istirahat di Dekat Kantor Camat Banuhampu

Semakin sore, sengatan matahari memang tak setajam tengah hari tadi. Walaupun begitu, saya rasa kelembabannya yang semakin tinggi membuat suasana tubuh kurang nyaman. Ditambah lagi intensitas kendaraan yang melintas semakin tinggi sehingga polusi yang saya hirup semakin banyak. Haus dan letih yang semakin meradang, memaksa saya untuk mengistirahatkan tubuh ini di tepi jalan dekat Kantor Camat Banuhampu. Sisa teh botol langsung saya teguk habis tanpa sisa, dilanjutkan dengan tegukan air mineral yang menyegarkan kerongkongan yang sempat kering. Duduk diatas sendal sendiri, Kaki diluruskan agar peredaran darah pada kaki tak tersumbat. Pijatan di sekitar lutut dan betis yang diolesi balsam meringankan rasa sakit akibat cidera yang pernah saya alami di Gunung Kerinci yang rupanya kini kambuh kembali. Damn,..!! Betis dan paha tak begitu terasa pegal, namun cidera lama ini rupanya cukup mengganggu perjalanan.

Bapak tua dengan baju lusuhnya duduk diatas batu seakan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Termenung, tak menghiraukan lalulalang kendaraan di sore hari nan ramai. dan tentu... tak akan pernah peduli akan sakit dan letih yang saya alami. Sepasang muda-mudi yang berboncengan menepi dengan motornya, sedikit berbincang mendiskusikan sesuatu tanpa turun dari kendaraannya. Berbicara, tertawa, tersenyum. Terkadang salah satu dari mereka melirik ke arah saya yang sedang duduk selonjoran diemperan toko, lalu pergi. Entah apa yang mereka bicarakan...

TerSadar waktu terus berjalan, tersadar sang surya semakin tenggelam, saya harus melanjutkan perjalanan. Walau sakit diderita, walau perih mendera, saya harus sampai di jam gadang, Hari ini juga!!

Kantor Camat Banuhampu


Pukul 15.15 pm - Beli Air di Padang Luar Plaza


Pukul 15.15 saya baru sampai Padang Luar Plaza, perkiraan 5 jam hingga bukittinggi ternyata meleset :D. Terbayang jarak perjalanan yang masih harus saya tempuh masih panjang, padahal persediaan air minum telah menipis. Di Padang Luar Plaza saya beli 1 botol teh yang dingin. Setelah bayar pake recehan 500an, saya teguk teh botol tersebut di parkirannya. Segar terasa mengalir di kerongkongan ini. Tak menunggu lama, saya langsung melanjutkan perjalanan, sambil lirik kanan kiri mencari masjid terdekat untuk persiapan melaksanakan shalat ashar.


Pukul 15.55 pm - Solat Ashar di Al - Falah (Jambu Air)

Akhirnya saya sampai di Masjid Al-Fallah, masjid yang biasa saya kunjungi untuk shalat jika sedang jalan-jalan sama rekan-rekan di kantor. Salah satu hal yang unik dari masjid ini adalah, Tak peduli sehangat apa pun udara di luar, air wudu nya tetap akan terasa sangat dingin sekali. Cocok sekali untuk menyegarkan tubuh saya yang sudah kumal karena debu yang beterbangan di sepanjang jalan. Selesai shalat dan berdoa saya duduk sebentar di dalam masjid, mengistirahatkan tubuh yang letih ini. Tanpa terasa, mata saya terpejam dan mulai tertidur. eh.. lebih tepatnya ketiduran. hehehe...

Mesjid AL Falah, Jambu Air, Bukit Tinggi


Pukul 16.30 pm - Berangkat dari Masjid

Astaghfirullah.... Terbangun dan kaget melihat jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 16.30. Sesaat setelah tersadar, saya langsung bergegas mengambil tas dan memulai perjalanan yang sempat tertunda akibat ketiduran :D. Hari semakin ramai, langkah kaki sedikit terseok akibat perih di lutut kiri. Tapi Jam Gadang sudah di depan mata, seakan tiap detiknya terasa memantul di gendang telinga...


Pukul 17.04 pm - Hampir sampai Pusat Kota

Ajaib... setelah melintasi lapangan kantin Bukit Tinggi, rasa lelah dan sakit terasa hilang. Semangat yang sempat kendur kembali membara. Jiwa yang sempat lelah pun segar kembali.Yah,.. Dengan semangat yang semakin menggebu saya langkahkan kaki ini menuju Jam Gadang yang semakin dekat di mata...

Bukit Tinggi kota wisata


Foto dengan latar belakang patung proklamator Indonesia, Bung Hatta


Pukul 17.21 pm - NYAMPE DI JAM GADANG!!!!!!! :D

Alhamdulillah... Akhirnya nyampe juga di Jam Gadang.. kalo gak ada orang, pasti saat itu juga saya teriak-teriak merayakan keberhasilan perjalanan saya sampai di Jam Gadang. Namun karena memang hari itu kawasan Jam Gadang sedang ramai oleh pengunjung, jadi saya urungkan niat gila tersebut :D. Total perjalanan saya dari Padang Panjang ke Jam Gadang ini sekitar 7 jam. Perjalanan ini memang gak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjalanan mendaki gunung yang puluhan kali lipat lebih melelahkan daripada long march ini. Tapi yang membuat saya sempat tersenyum adalah kegilaan ide untuk melakukan perjalanan dari Padang Panjang ke Bukit Tinggi ini. Kalo perjalanan mendaki gunung kan gak aneh.. Soalnya banyak orang yang suka mendaki gunung. Tapi Jarang kan "orang gila" yang mau berjalan kaki dari Padang Panjang ke Bukittinggi? hehehe....

Walaupun hari kamis, Keadaan kawasan wisata Jam Gadang saat itu memang sedang ramai, karena bertepatan dengan liburan anak sekolah dan juga mendekati pergantian tahun dari tahun 2011 ke tahun baru 2012. Beragam orang dari berbagai daerah memadati kawasan wisata tersebut. Tak hanya orang asli minang atau para perantau yang ada disana, namun ada juga orang sunda, orang jawa, turis asing serta beberapa orang dari daerah lainnya. Hal ini bisa diketahui dari logat dan bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.

Tak banyak foto yang saya ambil di Jam Gadang, karena memang sudah terlalu sering berfoto di tempat tersebut. Aktifitas para pengunjung serta Cuaca cerah semakin menambah indahnya pemandangan di Jam Gadang, apalagi gunung Marapi terlihat sangat jernih sore itu. Lembayung senja mulai menyelimuti kota Bukit Tinggi, angin berhembus membuat sejuk suasana. Saya duduk termenung dan tersenyum menikmati indahnya Hamparan kota Bukit Tinggi dengan latar belakang Gunung Marapi nan tagak gagah...

Foto Alay di depan Jam Gadang

Jam Gadang lagi rame pengunjung

Banyak badut di Jam Gadang, sekali foto 5000 rupiah



Pukul 18.35 pm - Solat Magrib

Kumandang adzan magrib menyadarkan saya dari indahnya dunia yang fana ini. Setiap lantunan kalimat yang dikumandangkan mengingatkan saya akan adanya alam yang lebih abadi. Terseret tertatih saya langkahkan kaki ini mencari masjid terdekat. Rupanya berjalan dengan kaki yang cedera akan lebih menyakitkan setelah kita beristirahat cukup lama. Lalu saya pun beribadah.. Menyembah Yang Maha Kuasa...


Pukul 19.05 pm - Beli Batagor Ihsan di Simpang Yarsi Bukittinggi

Hari ini cukup aneh.. Saya berjalan kaki sekitar 7 jam dengan hanya sarapan 1 kali di rumah, sepanjang jalan saya hanya minum air putih dan air teh. Hingga pukul 7 malam ini saya tidak merasakan lapar yang begitu berarti. Nafsu makan yang biasanya besar, seharian ini tak ada sama sekali. Tapi saya paham, keadaan ini tak boleh dilanjutkan hingga malam nanti. Walau bagaimanapun lambung saya tetap membutuhkan sesuatu untuk di lumerkan dengan zat asam yang dikeluarkannya, atau zat asam tersebut malah melumerkan sang lambung karena tidak ada lagi yang bisa ia lumerkan.

Selepas menunaikan ibadah solat magrib, saya arahkan kaki ini menuju sebuah tempat yang menjual batagor. Selama di Sumbar, baru di simpang yarsi ini saya menemukan rasa batagor yang memang bener-bener batagor. Mungkin di tempat lain ada, tapi saya belum tahu. Nama tempat makanan batagor ini adalah Batagor Bandung Ihsan. Pelayannya orang-orang sunda asli kecuali 1 orang cewek yang asli orang minang. karena rindu berbahasa sunda, maka saya ajak ngobrol mereka menggunakan bahasa sunda. Batagor nya lumayan enak... seporsinya kalo pake baso Rp 10.000. Harga yang standar untuk ukuran makanan di Sumatra Barat, karena porsinya memang cukup banyak dan mengenyangkan perut.

Pamit dari Batagor saya melanjutkan perjalanan untuk pulang. Saya putuskan untuk naik travel ke Padang Panjang, mengingat kaki saya sudah letih dan hari juga sudah cukup malam. Jika saya paksakan berjalan kaki, bisa-bisa sampai di Padang Panjang dini hari. Bukannya saya gak kuat untuk terus melangkah, namun saya takut ketemu anjing di perjalanan. Disini banyak banget orang yang melihara anjing, dan Kalo malam anjingnya biasanya lebih sensitif. :D

Batagor Bandung Ihsan di Simpang Yarsi Bukit Tinggi


Pukul 20.00 pm - Travel mogok di Cingkariang

Susah payah ngedapetin travel, sekalinya dapet malah ngetem lama. Para penumpang udah pada esmosi, sampai ada yang teriak "waah ini mobil mau sampe jam berapa di Padang!!!". Karena tak tahan omelan para penumpang, abang sopirnya mulai menghidupkan mobilnya untuk memulai perjalanan. baru sekitar 2 atau 3 Kilometer, ternyata mobilnya mogok pas di Cingkariang. hahaha... Otomatis para penumpang tambah geram. Kalo saya sih biasa aja soalnya energi saya unuk ikutan marah udah habis terkuras. Sang sopir minta maaf kepada semua penumpang, akhirnya sang sopir menelepon temannya agar segera datang dan menjemput para penumpang yang terlanjur naik mobil yang mogok. Kami semua dipindahkan ke mobil teman sang supir yang mobilnya mogok. Perjalanan pulang pun berlanjut hingga selamat sampai rumah dinas tercinta.

----------------------------------------------------

Demikian catatan perjalanan Long March saya ke Bukit Tinggi dari Padang Panjang. Awalnya gak pernah terpikir untuk membuat cerita perjalanan ini hingga di publish di blog saya ini. Tapi di tengah perjalanan saya baru memiliki ide untuk menceritakan kembali kisah perjalanan ini di blog saya. Tak ada niat untuk menyombongkan diri atau menganggap diri ini kuat.

Saya melakukan perjalanan ini semata-mata untuk refreshing atau menyegarkan otak dan jiwa saya yang jenuh dengan kegiatan sehari-hari (wajar kan sebagai manusia?). Yang pasti dalam perjalanan ini saya tidak mengeluarkan banyak uang sehingga bisa menghemat pengeluaran saya. Bukannya pelit atau terlalu perhitungan, alasannya lebih karena saya sedang mencoba berhemat agar untuk kepentingan yang jauh lebih penting yang sedang saya hadapi.

Dari perjalanan ini saya mendapatkan pengalaman baru, Otak yang segar, Ide baru, tulisan baru, dan semangat baru. Dari perjalanan ini juga saya mendapatkan hikmah, tak harus mengeluarkan uang yang banyak untuk berpetualang, asalkan memiliki niat dan kreatifitas, refreshing bisa didapatkan dengan cara yang mudah, murah meriah dan menyenangkan :)

sampai bertemu di cerita selanjutnya :D

target murah meriah selanjutnya:
1. Long March Padang Panjang - Bukit Tinggi Pulang Pergi dalam 1 hari
2. Long March Padang Panjang - Sicincin menyusuri rel kereta api
3. Long March Padang Panjang - Padang!!!! whoow... *.*

5 komentar:

  Anonim

9 Januari 2012 21.47

Saluut,,,, duo ampu jari...

  Anonim

7 April 2012 08.52

Salut, Unik, Menarik dan Kreatif

  Anonim

27 April 2012 14.08

awal buka blog ini krn brows ttg puncak lawang,. kirain perjalananny ke puncak lawang, ternyata ke Bukittingi. Tapi setelah baca ternyata asik jg. jd ikut ngingat jalan2 yg dilewati n bahasanya penyampaiannya jg enak.

  Anonim

9 Juli 2012 15.24

luar biasa ya,, cerita yang sangat panjangggggggggggggggggggg

  Titin fersilia Ashar

13 Januari 2014 10.49

Mantaaappp bana, salutt ama crita komplitnya, folback yaq

tambahkan artikel ini ke